Jumat, 22 April 2022

Seorang Teungku Pemilik Pesantren Darul Amal Memakan Keringat Tukang 87 Juta di tilap.

Tags

Seorang Teungku Pemilik  Pesantren Darul Amal Memakan Keringat Tukang 87 Juta di tilap.
BN Online ; Takengon- Kepala tukang yang bernama Supranoto yang beralamat di  kampung Stabat kabupaten Langkat provinsi Sumatra Utara itu yang berstatus tukang yang mengerjakan pesantren Darul Amal milik tengku anas nurdin kampung uring Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh .

saya Di telepon oleh Tgk anas nurdin dan di tawarkan pekerjaan kepada saya ,untuk membuat bangunan di pesantren Darul amal.

dengan hal yang sudah di sepakati bersama untuk pekerjaan pembuatan bangunan pasanteren tersebut dengan taksiran ongkos lebih kurang tertotal 242 (dua ratus empat  puluh dua juta),dengan sampai akhir pekerjaan sesuai perjanjian awal.


dan  pekerjaan telah selesai namun saya sebagai kepala tukang merasa ditipu karena sampai saat ini juga  sisa perongkosan tersisa 87 juta sampai saat ini tidak di bayar oleh pemilik pasanteren tengku anas nurdin 

pasal nya dia setiap di tagih berdalih dan tidak mau membayar hasil jeri payah keringat hak saya sisa ongkos pertukangan yang 87 delapan puluh juta rupiah tersebut sambil menangis itu yang saya harap untuk bayar kenet ,pekerja saya terpaksa saya harus jual sawah di kampung sebagai pembayar nya.

Menurut Noto selaku kepala tukang yang memborong seluruh kegiatan di pesantren Darul Amal dari tahun 2019 dan 2020, ada pun kerjaan seperti Mck dengan harganya borongan 39 juta sama atas bawah, borongan Pembuatan ipal Dengan Harga 33 juta dan Borongan Ruang Kelas Belajar(RKB) dengan harganya 116 juta yang atas, lain bawah untuk Keramik sekitar 22 juta, lain lagi pekerjaan pos jaga itu 4 juta lagi uangnya disitu harian,

Semua uang nya 242 juta cuma yang ku terimah Cuma 162 Juta lain listrik listrik itu 2 juta di lokal belom dibayar listrik mck sama balai 600 listrik itu keluar dari anggaran 242 juta kalau digabungkan sma listrik 87 juta itu lah yang belom di bayar, Pembukuan masih lengkap untuk kita buktikan.

Menurut catatan dan pengakuan Noto tersisa perongkosan 87 juta rupiah itu sama sekali belum pernah di bayar dan sudah sering di tagih dengan dalih sabar sebentar dana belum cair karena pekerjaan ini belum turun konsultan dan belum timbangterima dengan pihak pemberi dana bantuan untuk pesantren ini.

Akibat terlalu sering di tagih oleh saya selalu alasan begitu begitu saja , saya pulang ke kampung halaman saya di besitang lantas saya beri Surat kuasa kepada bapak angkat dan teman saya berdua untuk menagih namun hasil yang ditemukan nihil tetap berkata itu sudah selesai.
Mungkinkah seorang ulama pemilik pesantren bersipat penipu dan tega memakan hasil keringat orang susah seperti kami ini,dengan berat hati kami merantau ke Gayo Aceh tengah ini guna untuk mencari napkah istri dan ana anak kami namun setelah itu yang kami dapat hasil di tipu ungkap kepala tukang itu dengan hati kecewa.

Dan jika hal ini tidak direspon dan tanpa ada pengakuan saya mohon kepada kuasa yang sudah saya berikan mohon bawakan kejalur hukum biar ada kebenarannya semua ini,apakah saya yang mengada ada atau memang si pemberi kerja ini yang benar,semoga hukumlah nanti yang memberi kebenarannya imbuhnya kembali, ungkap Noto.

Pihak media dan pihak kuasa yang berjumpa langsung dengan Teungku Anas Nurdin berdalih bahwa semua pembayaran itu semua sudah lunas dan apabila adapun kekurangan saya lihat dulu pembukuan, ungkap Tgk anas.

RED
Editor : Riga Irawan Toni