BN Online Bantaeng – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng menggelar pertemuan tertutup bersama keluarga pasien yang meninggal dunia usai menjalani operasi caesar (SC). Pertemuan ini bertujuan memberikan klarifikasi medis dan menanggapi protes yang sebelumnya dilayangkan oleh pihak keluarga.
Pertemuan yang berlangsung di ruang Direktur RSUD Anwar Makkatutu tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat kunci rumah sakit, termasuk Plt. Direktur dr. Yusri Lisangan, Sp.OG., M.H., M.Kes., Plt. Wakil Direktur dr. Riesti Ekasanti, Sp.PK., M.Kes., serta dokter penanggung jawab tindakan, dr. Angga Dewi Umar, Sp.OG. Turut hadir dalam kesempatan itu adalah suami dan kerabat dekat almarhumah, serta perwakilan insan pers.
Dalam pertemuan tersebut, manajemen rumah sakit menyampaikan hasil investigasi melalui audit internal yang telah dilakukan untuk mengevaluasi seluruh rangkaian penanganan medis terhadap pasien. Pihak manajemen juga membuka ruang dialog langsung dengan suami almarhumah untuk mendengarkan aspirasi keluarga sekaligus menjelaskan kronologi medis, khususnya terkait tindakan operasi caesar yang dilakukan dua kali dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Plt. Direktur RSUD Anwar Makkatutu, dr. Yusri Lisangan, menjelaskan bahwa pengambilan keputusan medis lanjutan, termasuk tindakan darurat, didasarkan pada indikasi klinis yang mendesak. Salah satu kondisi kritis yang dapat memicu tindakan darurat adalah atonia uteri, yaitu kondisi di mana rahim tidak mampu berkontraksi secara efektif setelah persalinan. Kondisi ini berisiko tinggi menimbulkan perdarahan serius yang mengancam nyawa ibu, sehingga memerlukan intervensi medis segera.
"Penjelasan ini kami sampaikan sebagai bentuk transparansi dan klarifikasi mengenai langkah-langkah medis yang telah diambil oleh tim dokter," ujar dr. Yusri.
Menyimak paparan dari pihak manajemen, suami dan keluarga almarhumah menyatakan menerima hasil audit internal serta penjelasan medis yang disampaikan. Pihak keluarga juga meluruskan maksud dari unggahan mereka di media sosial Facebook sebelumnya. Menurut mereka, unggahan tersebut bukan bermaksud menyerang atau sekadar memprotes, melainkan merupakan upaya untuk mencari kejelasan atas penanganan yang diterima oleh almarhumah.
“Terkait postingan kami di Facebook, kami hanya ingin mendapat kejelasan penanganan pihak rumah sakit,” ungkap perwakilan keluarga dalam pertemuan tersebut.
Dengan diterimanya penjelasan ini, pertemuan tersebut dianggap berhasil menjadi ruang mediasi dan klarifikasi antara kedua belah pihak menyusul polemik yang mencuat pasca-kematian pasien. Namun, hingga berita ini diturunkan, rincian lengkap hasil audit serta kesimpulan medis spesifik mengenai penyebab kematian almarhumah belum dipublikasikan secara luas kepada masyarakat.
Klarifikasi ini diharapkan tidak hanya memberikan ketenangan bagi keluarga pasien, tetapi juga menjawab keingintahuan publik terkait standar pelayanan dan prosedur medis di RSUD Anwar Makkatutu.