Pelatihan yang berfokus pada pengembangan skill kewirausahaan ini diikuti oleh 16 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kegiatan dirancang dengan memadukan pembelajaran teori dan praktik secara langsung di dapur. Para peserta diperkenalkan pada teknik dasar pengolahan roti dan kue, mulai dari pengenalan dan takaran bahan, penggunaan peralatan modern, penerapan standar kebersihan (higiene), hingga proses pengolahan adonan dan teknik pemanggangan yang tepat.
Di bawah pendampingan instruktur profesional, para WBP berkesempatan langsung mengasah keterampilan mereka untuk menghasilkan produk kuliner yang berkualitas, higienis, dan layak konsumsi. Lebih dari sekadar memasak, pelatihan ini menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan kreativitas, kedisiplinan, serta pemahaman mendalam mengenai potensi usaha di bidang kuliner.
Guna menunjang kelancaran dan kenyamanan proses pembelajaran, setiap peserta turut dibekali dengan fasilitas pendukung. Mereka menerima paket bahan dan peralatan pembuatan roti, pakaian pelatihan, buku modul panduan, serta kartu identitas (ID Card) khusus. Dukungan fasilitas ini diharapkan dapat membantu peserta mengikuti pelatihan secara optimal dan menyerap materi dengan baik.
Kepala Rutan Kelas IIB Bantaeng, Ambo Asse A., menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian ini merupakan langkah penting dalam mempersiapkan masa depan warga binaan.
"Melalui program ini, kami terus mendorong agar warga binaan memiliki keterampilan nyata yang bermanfaat. Bekal kompetensi yang mereka peroleh hari ini diharapkan dapat membuka peluang usaha. Dengan demikian, mereka akan semakin siap kembali ke tengah masyarakat, mampu membangun kemandirian ekonomi, dan menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah menyelesaikan masa pembinaan," ujar Ambo Asse.
Kolaborasi antara Rutan Bantaeng dan BPVP ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan, melainkan dapat menjadi batu loncatan bagi para warga binaan untuk menjadi wirausahawan mandiri yang mampu bersaing dan memberikan nilai positif bagi masyarakat luas.
