Upacara tersebut dihadiri oleh seluruh jajaran pegawai Rutan Bantaeng, perwakilan dari Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II TPI Bantaeng, serta perwakilan warga binaan pemasyarakatan. Kehadiran warga binaan dalam upacara ini menjadi simbol bahwa semangat persatuan dan cinta tanah air melekat pada setiap individu, tanpa memandang latar belakang atau status hukum.
Kepala Rutan Bantaeng, Ambo Asse A, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan amanat bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan. Ia menekankan bahwa esensi dari ikrar pemuda 1928 harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan karakter yang tangguh.
“Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 mengingatkan kita bahwa masa depan Indonesia dibangun melalui karakter, persatuan, dan kontribusi nyata. Kita membutuhkan generasi yang mencintai tanah air, tidak mudah menyerah dalam berjuang, serta memiliki empati terhadap kesulitan sesama. Nilai-nilai tersebut harus berjalan selaras demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju,” tegas Ambo Asse A dalam amanatnya.
Lebih lanjut, Ambo Asse mengajak seluruh insan pengayoman di Rutan Bantaeng untuk menginternalisasi semangat pemuda ke dalam etos kerja sehari-hari. Ia menyoroti pentingnya kedisiplinan, sinergitas antar-jabatan, serta keharmonisan lingkungan kerja sebagai fondasi dalam menjalankan tugas pemasyarakatan yang profesional.
“Sinergitas yang kita bangun hari ini, termasuk kolaborasi dengan pihak Imigrasi, adalah wujud nyata dari persatuan. Mari kita jadikan semangat ini sebagai landasan untuk menciptakan lingkungan rutan yang aman, tertib, dan kondusif,” tambahnya.
Rangkaian upacara diakhiri dengan doa dan foto bersama, menyisakan harapan agar api semangat Sumpah Pemuda terus menyala. Rutan Bantaeng berharap momentum ini mampu menginspirasi warga binaan untuk memperbaiki diri dan memotivasi petugas untuk terus memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.
